Pada suatu pagi
seorang pemuda berjalan menyusuru hutan, tiba-tiba dia melihat sebutir telur ayam
hutan yang sangat menarik, warnanya putih bersih, pemuda itu pun langsung
membawanya pulang.
Sesampainya di
rumah pemuda itu memberi tahukan pada ibunya perihal terur tersebut, sang ibu
berkata :” anakku, kalau kamu mau telur itu menetas, letakkanlah di kandang
ayam kita, disana ayam kita ada yang sedang mengerami telurnya, biar telur itu
ikut dierami juga”. Pemuda itu menjawab, “Tidak ibu, aku sangat senang dengan
telur ini, aku akan menaruhnya di kamar tidurku, agar aku bisa melihatnya
setiap waktu”. Sang Ibu hanya tersenyum.
Setiap pagi pemuda
itu memperhatikan telur miliknya, dibersihkan dari dari debu yang menempel,
pemuda itu ingin telur miliknya selalu bersih dan indah.
Pada suatu hari,
kakak dari pemuda itu masuk kamar tanpa
sepengetahuannya, dia melihat telur yang sangat cantik itu dia pun mendekati
dan ingin menyentuhnya tapi tiba-tiba sang pemuda itu masuk dan berteriak,”Jangan
sentuh kak, itu punyaku”.
Sang kakak segera bediri menatap adiknya
lekat, dan berkata. “Adikku, telur itu sangat bagus, kalua dia menetas pasti
akan menjadi ayam hutan yang cantik, Taruhlah dikandang ayam kita biar sihitam
mengeraminya”.
Pemuda itu
menjawab,”Tidak kakak, disini lebih bersih, hangat dan aman”. Sang kakak
tersenyum dan segera berlalu.
Hari pun berganti,
minggu berlalu, Pada suatu malam, sang pemuda bermimpi telor miliknya menetas,
menjadi seekor ayam hutan yang sangat cantik, bulu-bulunya warna warni, kakinya
putih bersih. Saat terbangun segera dia memperhatikan telornya,, dan dia
melihat ada sedikit retak,”oh, benar dia akan menetas” pikirnya. dia
menungguinya sampai sore hari dan berganti malam, tapi tidak menetas juga.
Saat pagi sang ibu
mengetuk pintu kamarnya dan membangunkan dia dan berkata,”sayang, ibu mencium
bau busuk dari kamarmu, ibu rasa itu dari telur milikmu itu”.
Sang pemuda segera
memeriksa telur miliknya dan benar, baunya sangat tidak enak, ada cairan
berwarna kuning keluar dari cankangnya dia tersenyum dan berkata,”bu, telur ini
mau menetas”.
Sang ibupun
menjawab, “Tidak sayang, telur ini sudah
busuk, kamu harus membuangnya jauh-jauh”. Sang pemuda diam dan kali ini dia
merasa perkataan ibunya benar, telur yang cantik itu telah membusuk dan dia harus membuangnya,
dan berkata; “Ibu, maafkan aku, aku tidak mendengarkanmu waktu itu, kalau saja
aku menitipkan telur ayam hutan itu pada si hitam pastilah dia sudah menetas”.
Sang ibu menyahut :”Tidak apa-apa sayang, ini sebuah pelajaran berharga untukmu jika mencintai sesuatu harus memperlakukannya secara wajar, tidak berlebihan”
Sang ibu menyahut
:”Tidak apa-apa sayang, ini sebuah pelajaran berharga untukmu jika mencintai
sesuatu harus memperlakukannya secara wajar, tidak berlebihan”
Sang pemuda :”iya
bu,, terimakasih.
Comments
Post a Comment