Seekor semut
tampak sedang kerepotan membawa sepotong roti yang lumayan besar,
mendorong-dorong dengan sekuat tenaga, keringat mengucur deras dari tubuhnya,
sebantar- sebentar berhenti untuk istirahat. Seekor burung betina menghampiri
menawarkan bantuan.
“Wahai semut, bisakah saya membantumu membawa roti itu?”
“Ah,, tidak usah burung, saya bisa membawanya sendiri”.
Jawab semut
“Saya melihat kamu sudah lelah, ijinkanlah aku membantumu”.
Pinta sang burung
“Oh, baiklah. Antarkan roti ini kesarangku ya,,, disana
anak-anakku sedang menunggu”. Kata semut
“Baiklah semut”. Jawab sang burung, dengan segera potongan
roti itu dibawa terbang.
Semut berjalan dengan cepat menuju sarangnya,dengan segera
dia akan membagikan makanan itu pada anak-anaknya. Sesampainya disarang
anak-anak semut tampak sudah lama menunggu,
“wahai Ibu, dimanakah makanan untuk kami”, kata seekor anak
semur
“Anakku, tadi ibu menitipkan makanan yang ibu dapat pada
burung, burung membantuku membawa makanan yang aku dapat hari ini, karena
terlalu berat untuk dibawa sendiri, apakah dia bellum sampai?” tanya induk
semut
“Belum ibu”. Jawab anak-anak semut hampir bersamaan
“Kita tunggu nak, ibu rasa sebentar lagi dia sampai”. Kata
induk semut
“Baiklah bu”. Jawab anak semut
Mereka menunggu dengan sabar, tetapi burung tidak kelihatan
juga. Anak-anak semut merengek karena sudah lapar.
“Bu, kok lama sekali”. Kata anak semut
“Sabar sayang, kita tunggu saja”. Jawab induk semut
“Kami lapar bu”. Kata anak semut yang lain
“Iya, ibu tahu nak, sabar sebentar ya”. Kata sang induk
“Iya bu”, jawab anak-anak semut
Anak-anak semut tertidur karena lelah menunggu, induk semut
tampak gelisah melihat anak-anaknya, dia berjalan keluar sarang menemui
teman-temannya, induk semut menceritakan tentang burung yang membantunya kepada
teman-temannya.
“Ah, aku rasa kita harus kesarang burung itu”. Kata seekkor
semut yang gemuk
“Iya benar, aku rasa roti itu sudah dimakannya sendiri”.
Sahut semut yang paling tinggi
“iya, ku rasa juga begitu”. Semut yang lain menimpali
“Kalau begitu kita kesana sekarang, kita akan memberinya
pelajaran”. Kata semut yang paling besar
“Ayoooo”. Jawab mereka serempak.
Tampaknya semut-semut itu sangat marah, dengan wajah garang
mereka berjalan menuju sarang burung. Sesampainya di sarang burung tampak tiga
ekor burung kecil sedang menangis.
“Wahai anak burung, kenapa engkau menangis?”. Kata semut
yang paling besar
“Kami lapar, tuan semut”. Jawab anak burung
“Dimana ibu kalian?”. Tanya pemimpin semut
“Kami tidak tahu tuan, dari tadi ibu kami pergi dan belum
kembali”. Jawab anak burung
Semut besar pun menoleh pada teman-temannya.
“Teman-teman, mari kita cari induk burung itu, kita
berpencar”. Kata pemimpin semut
“Siap”. Jawab semua semut
Beberapa saat kemudian salah
seekor semut berteriak, “Aku menemukannya”. Para semut segera berkumpul kearah
suara. Alangkah terkejutnya mereka melihat induk burung tergeletak dengan darah
mengering disayapnya. Pemimpin semut segera memeriksanya. “Dia masih hidup,
mari kita bantu dia”, kata pemimpin semut. Beberapa dari semut mengambilkan air
dan diminumkan pada burung, tak lama kemudian sang burung sadar.
“Terimakasih, Kalian sudah menolongku”, Kata burung lirih
air
“Iya, sama-sama”, Jawab semut, air matanya menetes dipipi
“Maafkan saya, saya tidak bisa mengantarkan makananmu sampai
rumahmu”, kata burung pelan
“Maafkan kami juga yang telah berburuk sangka kepadamu” kata
semut
Mereka saling meminta maaf dan memaafkan. Dan
persahabatannya mereka makin erat. Semakin saling menyayangi.


Comments
Post a Comment