Skip to main content

Persahabatan Semut dan Burung

Seekor semut tampak sedang kerepotan membawa sepotong roti yang lumayan besar, mendorong-dorong dengan sekuat tenaga, keringat mengucur deras dari tubuhnya, sebantar- sebentar berhenti untuk istirahat. Seekor burung betina menghampiri menawarkan bantuan.
“Wahai semut, bisakah saya membantumu membawa roti itu?”
“Ah,, tidak usah burung, saya bisa membawanya sendiri”. Jawab semut
“Saya melihat kamu sudah lelah, ijinkanlah aku membantumu”. Pinta sang burung
“Oh, baiklah. Antarkan roti ini kesarangku ya,,, disana anak-anakku sedang menunggu”. Kata semut
“Baiklah semut”. Jawab sang burung, dengan segera potongan roti itu dibawa terbang.
Semut berjalan dengan cepat menuju sarangnya,dengan segera dia akan membagikan makanan itu pada anak-anaknya. Sesampainya disarang anak-anak semut tampak sudah lama menunggu,
“wahai Ibu, dimanakah makanan untuk kami”, kata seekor anak semur
“Anakku, tadi ibu menitipkan makanan yang ibu dapat pada burung, burung membantuku membawa makanan yang aku dapat hari ini, karena terlalu berat untuk dibawa sendiri, apakah dia bellum sampai?” tanya induk semut
“Belum ibu”. Jawab anak-anak semut hampir bersamaan
“Kita tunggu nak, ibu rasa sebentar lagi dia sampai”. Kata induk semut
“Baiklah bu”. Jawab anak semut
Mereka menunggu dengan sabar, tetapi burung tidak kelihatan juga. Anak-anak semut merengek karena sudah lapar.
“Bu, kok lama sekali”. Kata anak semut
“Sabar sayang, kita tunggu saja”. Jawab induk semut
“Kami lapar bu”. Kata anak semut yang lain
“Iya, ibu tahu nak, sabar sebentar ya”. Kata sang induk
“Iya bu”, jawab anak-anak semut
Anak-anak semut tertidur karena lelah menunggu, induk semut tampak gelisah melihat anak-anaknya, dia berjalan keluar sarang menemui teman-temannya, induk semut menceritakan tentang burung yang membantunya kepada teman-temannya.
“Ah, aku rasa kita harus kesarang burung itu”. Kata seekkor semut yang gemuk
“Iya benar, aku rasa roti itu sudah dimakannya sendiri”. Sahut semut yang paling tinggi
“iya, ku rasa juga begitu”. Semut yang lain menimpali
“Kalau begitu kita kesana sekarang, kita akan memberinya pelajaran”. Kata semut yang paling besar
“Ayoooo”. Jawab mereka serempak.



Tampaknya semut-semut itu sangat marah, dengan wajah garang mereka berjalan menuju sarang burung. Sesampainya di sarang burung tampak tiga ekor burung kecil sedang menangis.
“Wahai anak burung, kenapa engkau menangis?”. Kata semut yang paling besar
“Kami lapar, tuan semut”. Jawab anak burung
“Dimana ibu kalian?”. Tanya pemimpin semut
“Kami tidak tahu tuan, dari tadi ibu kami pergi dan belum kembali”. Jawab anak burung
Semut besar pun menoleh pada teman-temannya.
“Teman-teman, mari kita cari induk burung itu, kita berpencar”. Kata pemimpin semut
“Siap”. Jawab semua semut
Beberapa saat kemudian salah seekor semut berteriak, “Aku menemukannya”. Para semut segera berkumpul kearah suara. Alangkah terkejutnya mereka melihat induk burung tergeletak dengan darah mengering disayapnya. Pemimpin semut segera memeriksanya. “Dia masih hidup, mari kita bantu dia”, kata pemimpin semut. Beberapa dari semut mengambilkan air dan diminumkan pada burung, tak lama kemudian sang burung sadar.
“Terimakasih, Kalian sudah menolongku”, Kata burung lirih air
“Iya, sama-sama”, Jawab semut, air matanya menetes dipipi
“Maafkan saya, saya tidak bisa mengantarkan makananmu sampai rumahmu”, kata burung pelan
“Maafkan kami juga yang telah berburuk sangka kepadamu” kata semut

Mereka saling meminta maaf dan memaafkan. Dan persahabatannya mereka makin erat. Semakin saling menyayangi.

Comments